Minggu, 20 Maret 2011

TEORI TAHAPAN PENALARAN MORAL - KOHLBERG

B. TEORI TAHAPAN PERKEMBANGAN PENALARAN MORAL DARI KÖHLBERG

Perkembangan moral merupakan topik teoritis dan riset yang cukup menarik bagi para psikolog. Beberapa tokoh berusaha untuk menyampaikan pemikirannya tentang perkembangan moral, diantaranya Sigmund Freud dan beberapa tokoh yang berorietasi teori belajar. Piaget termasuk salah satu kontributor dalam bidang ini. Kajian Piaget tentang perkembangan moral masih menggunakan dasar pandangan organismik. Dia melihat anak sebagai partisipan aktif dalam perkembangan moral. Pada prinsipnya Piaget melihat perkembangan moral sebagai suatu proses yang menghasilkan suatu konstruksi penilaian dan aturan moral yang berubah secara kualitatif dan berkembang melalui beberapa tahapan.
Seorang tokoh bernama Lawrence Köhlberg mengembangkan teori perkembangan penalaran moral yang dikenal juga sebagai teori moralisasi yang berpandangan kognitif-developmental. Pada dasarnya, gagasan yang dikembangkan Köhlberg berangkat dari tradisi pemikiran Piaget. Meskipun menyatakan banyak ketidaksepakatannya terhadap teori perkembangan moral yang disampaikan Piaget, namun secara umum Köhlberg mengikuti orientasi organismik yang digunakan oleh Piaget.

Perkembangan Moral menurut Pandangan Teori Belajar dan Psikoanalitik
Teori perkembangan moral Köhlberg yang berorientasi perkembangan kognitif tidak sejalan dengan pandangan perkembangan moral dari berbagai pandangan yang memiliki orientasi teori belajar dan psikoanalitik.
Meskipun antara teori belajar dan psikoanalitik memiliki perbedaan yang cukup mendasar, namun keduanya sama-sama memiliki gagasan bahwa sesorang dikatakan berkembang moralitasnya ketika perilakunya lebih sesuai dengan aturan dalam masyarakat. Dengan demikian orang yang sudah mengalami perkembangan moral adalah mereka yang telah menginternalisasi atau belajar, tentang peraturan yang ada di masyarakat, dan mereka yang menunjukkan perilaku sesuai dengan aturan tersebut.
Menurut teori belajar, perkembangan moral terjadi melalui akuisisi serangkaian pola hubungan stimulus-respon yang telah dipelajari. Hubungan tersebut diperoleh berdasarkan hadiah dan hukuman dari luar. Psikoanalisis, meskipun tidak sepakat dengan gagasan belajar stimulus-respon, juga berpendapat bahwa perkembangan moral semata-mata merupakan internalisasi dari standard kemasyarakatan. Diyakini pula bahwa perkembangan tersebut sebagian besar merupakan hasil dari suatu keniscayaan proses biologis, yaitu maturasional. Dapat disimpulkan bahwa meskipun kedua pandangan tersebut memiliki penjelasan yang berbeda mengenai bagaimana perkembangan moral terjadi, namun keduanya menggunakan indikasi yang sama tentang terjadinya perkembangan moral , yaitu ketika respon yang ditunjukkan sesuai dengan standard atau aturan dalam masyarakat.
Dilihat dari sudut pandang penganut perkembangan kognitif, banyak terdapat kekeliruan pada gagasan tersebut. Pertama, hanya menekankan pada respon dalam situasi keputusan moral, tidak cukup untuk memahami perkembangan moral. Sangat mungkin suatu keputusan atau pilihan moral yang sama didasarkan pada alasan atau pengertian yang berbeda. Apa yang hendak disampaikan adalah gagasan bahwa respon yang sama ada kemungkinan memiliki makna yang sama sekali berbeda, jika terjadi pada masa perkembangan yang berbeda. Dengan demikian, respon belum tentu mengindikasikan kesamaan struktur yang ada.
Sebagai contoh, jika kita tanya anak usia empat tahun apakah mencuri benar atau tidak, anak tersebut akan menjawab salah. Begitu juga bila kita tanyakan hal serupa pada orang berusia dua puluh tahun. Dengan demikian, bagi teori yang berorientasi psikoanalisis dan belajar, kedua individu tersebut dinilai memiliki status perkembangan moral yang sama. Pada hal keadaan sebenarnya tidaklah demikian.
Apabila kita mengajukan pertanyaan lebih jauh: mengapa mencuri salah, maka kita akan melihat bukti adanya pebedaan yang cukup besar dalam perkembangan moral di antara kedua individu tersebut. Meskipun keduanya menunjukkan respon yang sama tentang perilaku mencuri, namun mereka memiliki alasan yang berbeda. Bagi anak usia empat tahun, kemungkinan besar alasannya adalah mencuri akan dihukum. Alasan yang demikian, bagi orang berusia dua puluh tahun dinilai terlalu naif. Baginya alasan yang masuk akal adalah karena perilaku demikian akan merusak prinsip saling percaya, dimana sebagai anggota masyarakat harus menghormati kesepakatan implisit yang ada dalam masyarakat. Anda harus menghormati hak kepemilikan dan pribadi, agar mereka juga menghormati hak yang anda miliki.
Oleh karena itu, Köhlberg kurang setuju menggunakan pendekatan yang menekankan pada respon dan lebih memilih untuk menekankan kajian pada alasan yang mendasari respon tersebut.

Metode yang Digunakan Köhlberg dalam Meneliti Pertimbangan Moral
Dalam melakukan kajian tentang pertimbangan moral, Köhlberg menggunakan beberapa cerita. Masing-masing cerita tersebut mengemukakan dilema moral imaginer untuk mengukur pertimbangan moral tersebut. Di dalam cerita tersebut termuat konflik bagi pendengar. Terdapat konflik untuk menentukan satu diantara dua alternatif yang keduanya tidak dapat diterima budaya, dan juga dua alternatif yang keduanya dapat diterima secara budaya. Pertanyaan yang dikemukakan adalah apa yang harus dilakukan oleh tokoh dalam cerita tersebut, dan mengapa mereka harus melakukan hal tersebut.
Setelah menyajikan cerita, mengemukakan pertanyaan, dan mendapat jawaban, kemudian Köhlberg menganalisisnya untuk mengevaluasi pertimbangan moral responden. Setelah menerapkan soal cerita dilema moral tersebut pada setiap usia, maka Köhlberg menemukan bahwa pertimbangan moral berkembang melalui serangkaian tahapan yang memiliki perbedaan secara kualitatif. Perbedaan kualitas pertimbangan moral untuk respon pilihan moral yang sama, denmenunjukkan terdapatnya perbedaan kualitas struktur pemikiran, menunjukkan perbedaan orang dalam beberapa hal dalam perkembangannya.

Contoh dilema moral dalam penelitian Köhlberg

Di Eropa, seorang wanita dalam keadaan dekat dengan kematian karena menderita kanker. Ada suatu obat yang, menurut para dokter, dapat menyelamatkannya. Terdapat suatu bahan yang berhasil ditemukan oleh ahli obat di kota tersebut. Pembuatan obat tersebut sangatlah mahal, namun ahli obat tersebut menjualnya dengan harga sepuluh kali lipat dari biaya pembuatannya. Ahli obat tersebut membeli bahan seharga $200, menjual obat yang dihasilkan dalam dosis kecil dengan harga $2000. Suami wanita yang sedang mendekati kematiannya tersebut meminjam ke semua kenalannya, namun hanya mampu terkumpul $1000, yang hanya separoh dari harga obat. Sang suami tersebut menemui ahli obat, kemudian menceritakan bahwa istrinya dalam kondisi hampir meninggal dan minta untuk dapat membeli obat tersebut dengan harga yang lebih murah atau membayarnya belakangan. Ahli obat tersebut berkata, “Tidak, Saya yang menemukan obat ini dan saya akan mengumpulkan uang dari obat ini.” Sang suami tersebut putus asa dan nekat. Dia berpikiran untuk menyelinap ke toko obat milik ahli obat tersebut dan mencuri, untuk kemudian diberikan pada istrinya.
1. Haruskah sang suami tersebut mencuri obat? Mengapa?
2. Andai sang suami tersebut tidak mencintai istrinya, haruskah dia mencuri obat untuk istrinya? Mengapa?
3. Semisal orang yang sedang sekarat tersebut bukanlah istrinya, tapi orang yang tidak dikenalnya, haruskah dia mencuri obet untuk orang yang tidak dikenalnya? Mengapa?
4. (Jika anda setuju dengan tindakan mencuri obat untuk orang yang tidak dikenal): Semisal yang membutuhkan obat tersebut adalah binatang piaraan yang disayangi, haruskah orang tersebut mencuri obat untuk binatang kesayangannya? Mengapa?
5. Apakah orang harus melakukan segalanya yang dia bisa, untuk menyelamatkan nyawa orang lain? Mengapa?
6. Tindakan mencuri yang dilakukan oleh sang suami tersebut adalah melanggar hukum. Apakah dengan demikian, secara moral salah? Mengapa?
7. Apakah orang harus meakukan segalanya yang dia bisa untuk mematuhi hukum? Mengapa?
7a. Bagaimana hal tersebut diterapkan pada apa yang harus dilakukan oleh sang suami tersebut?
Diadaptasi dari: “Promoting Moral Growth: From Piaget to Köhlberg”, Reimer, Paolitto, & Hersh. (1983).

Pada akhirnya, Köhlberg menemukan adanya enam tahapan dalam perkembangan pertimbangan moral. Disampaikan bahwa semua orang melalui tahapan tersebut secara berurutan, tanpa kecuali. Selain itu, disampaikan pula bahwa keenam tahapan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan pertimbangan moral, dimana masing-masing terdiri dari dua tahap. Tingkatan (level), yang dibagi menjadi tiga, didasarkan pada pendekatan yang digunakan oleh individu dalam menghadapi isu moral. Bagian yang lebih rinci dari tingkatan, yaitu tahapan (stage), dibagi berdasarkan pada kriteria yang digunakan individu dalam membuat penilaian moral.
Dengan disampaikannya tiga tingkatan pertimbangan moral menawarkan pendekatan yang lebih umum dalam memahami perkembangan moralitas. Individu yang berada pada tingkatan prekonvensional cenderung mendekati isu moral dengan perspektif kepentingan konkret dari individu yang bersangkutan. Individu tidak begitu mempertimbangkan aspek lain, kecuali dampak nyata apa yang akan diperolehnya. Tidak ada pertimbangan bagaimana masyarakat akan menilai, dampak apa yang akan terjadi terhadap sistem, ataupun prinsip apa yang diperjuangkannya. Tingkat moralitas pertama ini secara umum merupakan karakteristik moral yang ada pada anak. Namun demikian tidak banyak remaja, dan beberapa orang dewasa masih tetap menerapkannya (Reimer, Paolitto, & Hersh, 1983).
Orang yang sedang berada pada tingkat konvensional akan memiliki pertimbangan moral dengan menerapkan pendekatan dari perspektif diri selaku-anggota-masyarakat. Individu memiliki kesadaran dan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki norma, dan berharap anggotanya bertindak sesuai dengan norma tersebut. Tujuan individu tidak sekedar menghindari apa yang tidak diharapkannya, tapi juga ingin hidup selaras dengan masyarakat. Individu ingin menjadi anggota yang baik sesuai dengan perannya dalam suatu keanggotaan. Menurut Reimer et al. (1983) level moralitas ini biasanya mulai muncul saat remaja, dan pada umum akan semakin menonjol ketika dewasa. Pendekatan moral level konvensional inilah yang dominan terdapat pada sebagian besar orang dewasa.
Ketika individu sudah berada pada tingkat poskonvensional, pendekatan moral yang digunakan adalah perpektif yang melampaui norma masyarakat. Dia mampu melihat lebih jauh mengenai dasar, alasan, atau tujuan keberadaan norma atau aturan yang ada di masyarakat. Perpektif yang digunakannya adalah prinsip-prinsip yang mendasari terbangunnya masyarakat yang baik. Seringkali orang-orang demikian adalah orang-orang “besar” yang memiliki jawaban terhadap dilema moral yang sistem atau norma di dalam masyarakat sendiri tidak dapat menyelesaikannya. Tidak seperti pendekatan-pendekatan sebelumnya, pendekatan moral tingkat ketiga, yaitu poskonvensional, tidak banyak dilalui orang. Apabila memang muncul, biasanya pada masa awal dewasa. Tingkat pertimbangan moral ini hanya terdapat pada sedikit orang (Reimer et al., 1983).
Teori Köhlberg mengenai pertimbangan moral dan pendidikan moral berangkat dari penjelasan empiris terhadap tahap-tahap perkembangan moral yang disusunnya. Dengan demikian untuk memahami perkembangan moral dari Köhlberg pertama kali harus dipahami tahap-tahap perkembangan tersebut. selain itu, karena tahap-tahap perkembangan moralitas yang disampaikannya diasumsikan memiliki perbedaan kualitas, maka pendidikan moral diarahkan untuk mendorong peningkatan tingkat pertimbangan moral siswa.

Berikut diuraikan ketiga tingkatan pertimbangan moral yang di dalamnya terdiri dari enam tahap perkembangan moral dari Köhlberg.

Tingkat 1. Pertimbangan Moral Prekonvensional. Dalam tingkat pertama ini terdapat dua tahap pertimbangan moral pertama. Kedua tahap yang ada dalam tingkat pertama ini memiliki ciri yang sama, bahwa keputusan tentang kebenaran atau kesalahan moral mengacu atau bersumber pada peristiwa dan objek yang bersifat fisik dan eksternal.
Tahap 1. Orientasi Kepatuhan dan Hukuman. Pada tahap ini dasar pertimbangan moral semata-mata didominasi oleh ketaatan atau hukuman oleh figur yang memiliki otoritas kekuasaan. Dengan demikian pertimbangan apakah sesuatu dikatakan benar atau salah didasarkan pada apakah hal tersebut akan mengakibatkan hukuman atau tidak. Menurut perspektif ini seseorang harus patuh pada otoritas kareana kekuasannya, sebab dapat memberikan hukuman. Suatu tindakan akhirnya dikatakan tidak bermoral bila terkait dengan sangsi fisik dari pihak lain.
Tahap 2. Orientasi Egoistik Naif. Pertimbangan moral pada tahap ini didasarkan pada persepsi apakah sesuatu memiliki nilai pemenuhan kebutuhan atau tidak, baik bagi diri sendiri maupun orang yang sangat dekat. Dengan demikian individu yang memiliki pertimbangan moral pada tahap ini mungkin menyatakan bahwa mencuri makanan adalah benar bagi orang yang sangat lapar, memiliki keluarga yang kelaparan. Dengan perspektif yang sama, keadilan dimaknai “saya akan melakukan seperti apa yang dilakukan orang lain terhadap saya”. Aoleh karena itu tahap ini dikenal juga dengan nama tahap instrumental exchange.
Tingkat 2. Pertimbangan Moral Konvesional. Pada tingkat pertimbangan moral kedua ini, individu menggunakan pertimbangan harapan atau tuntutan pihak lain, yaitu masyarakat, sebagai referensi. Suatu tindakan dikatakan benar apabila sesuai dengan peran apa yang seharusnya dilakukannya, menurut pihak lain atau masyarakat.
Tahap 3. Orientasi Anak-baik. Istilah lain yang digunakan untuk menunjuk tahap ini adalah konformitas interpersonal. Orientasi utama moralitas anak pada tahap ini adalah terlihat sebagai anak yang baik atau anak yang manis oleh orang lain. Anak melihat bahwa masyarakat menentukan peran tertentu yang harus dilakukan anggotanya secara umum. Apabila bertindak sesuai dengan peran tersebut maka akan diperoleh penerimaan dari orang lain, dan mendapatkan cap sebagai anak baik. Dengan demikian tindakan yang bersifat membantu atau menyenangkan orang lain, atau sesuai dengan peran yang diharapkan oleh masyarakat dan diikuti penerimaan dari orang lain dinilai sebagai sebagai bermoral.
Tahap 4. Orientasi Otoritas dan Menjaga Social-Order. Pada tahap ini mulai berkembang pandangan yang lebih formal terhadap peraturan dan institusi kemasyarakatan. Berbagai keputusan dan pilihan moral tidak lagi berdasarkan alasan agar mendapat pengakuan atau penerimaan dari orang lain dan masyarakat, aturan dan institusi yang ada dalam masyarakat itu sendiri yang menjadi alasan utama. Tindakan yang bermoral adalah yang menjaga keberadaan aturan kemasyarakatan dan mendukung istitusi ketertiban sosial, misalnya pemerintah, supaya tetap berfungsi dengan baik. Pada titik ini, individu mulai dapat berpikir pada sisi lain, yaitu apa yang harus dilakukan masyarakat atau institusi sehingga dikatakan bermoral. Apabila hal demikian terjadi maka individu tersebut berada pada transisi ke jenjang pertimbangan moral berikutnya.
Di antara tingkat konvensional dan postkonvensional dalam perkembangan pertimbangan moral, ada sementara pihak yang menambahkan suatu tahap transisi (tahap 4 ½). Sebagian orang yang sudah mulai melihat moralitas konvensional bersifat relatif dan arbitrer tapi belum menemukan prinsip-prinsip etika universal, akan terperosok pada etika hedonistik “urusi masalahmu sendiri” atau “lakukan yang kau kehendaki”. Hal demikian terlihat jelas pada budaya Hippie pada tahun 1960-an.
Tingkat 3. Pertimbangan Moral Postkonvensional. Pada tingkat perkembangan pertimbangan moral terakhir ini, penilaian moral dibuat berdasarkan pandangan bahwa terdapat elemen subjektivitas dalam aturan sosial. Berbagai aturan dan institusi dalam masyarakat bersifat relatif, tidak absolut. Dengan demikian aturan yang lain juga sangat mungkin untuk dibuat.
Tahap 5. Orientasi Kontraktual Legalistik (Kontrak Sosial). Pada tahap ini individu menyadari bahwa terdapat resiprositas dan kontrak imprisit antara diri idividu dengan masyarakat. Seseorang harus mengikuti aturan yang ada dalam masyarakat dan melaksanakan kewajibannya, dengan alasan mayarakat juga akan melakukan hal yang sama kepada individu. Sebenarnya, hak untuk kemaslahatan individu menjadi hal terpenting, namun karena terdapat individu-individu lain dalam masyarakat, maka harus ada pembatasan pada beberapa hak individu yang dapat mengurangi atau merugikan hak individu lain. Dengan demikian institusi masyarakat tidak lagi dilihat sebagai tujuan akhir, tapi sebagai salah satu pihak dalam hubungan kontrak tersebut. Dalam hal ini individu tidak boleh mencuri, misalnya, karena akan merusak kontrak sosial yang berupa sikap saling menghormati hak masing-masing anggota masyarakat.
Tahap 6. Orientasi Nurani atau Prinsip (Prinsip Etika Universal). Tahap ini ditandai dengan adanya penghargaan/pandangan yang lebih formal terhadap subjektivitas aturan-aturan kemsyarakatan. Pada tahap ini individu tidak hanya melihat bahwa kontrak implisit antara individu dan masyarakat merupakan fenomena subjektif yang bersifat arbitrer, namun juga dinilai bahwa interpretasi setiap orang terhadap makna dan batasan kontrak tersebut juga bersifat subjektif. Oleh karena itu, penilaian moral hendaknya didasarkan pada nurani yang terdiri dari prinsip-prinsip personal. Apabila individu sampai pada tahap ini akan sering muncul pernyataan:” Saya tahu bahwa ini adalah aturan, tapi apakah ini adil?”. Disamping diperlukan peraturan sebagai sebuah parameter, seseorang harus menggunakan nurani sebagai sumber penilaian moral pamungkas.
Serangkaian perkembangan pertimbangan moral dari Köhlberg, yang terdiri dari tiga tingkat dan masing-masing terdiri dari dua tahap, serta karakteristik yang menyertainya secara ringkas dapat dilihat pada dua tabel berikut.

Tabel Tingkatan dan Tahapan Perkembangan Pertimbangan Moral dari Köhlberg
Tingkat Tahap
1. Pre-konvensional
1. Moralitas Heteronom: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman
2. Individualisme, Instrumental, Imbal-balik: Orientasi Egoistik Naif
2. Konvensional 3. Ekspektasi, Hubungan, dan Konformitas Interpersonal: Orientasi "Anak baik"
4. Sistem sosial dan Nurani: Orientasi Otoritas dan Ketertiban Sosial (Hukum dan Aturan)
3. Pos-konvensional 5. Kontrak Sosial dan Hak Individual: Orientasi Kontraktual legalistik
6. Prinsip Etis Universal


Tabel Karakteristik Utama Tiap Tahap Perkembangan Moral
Tahap Dasar Kebenaran Alasan Tindakan Perspektif Sosial
1. Mematuhi aturan untuk menghindari dampak negatif bagi diri atau kepemilikan Menghindari hukuman dari otoritas Sudut pandang egosentrik
2. Memenuhi kepentingan individu, keadilan/kesepakatan Melayani kepentingan diri dan menyadari tiap orang punya kepentingannya sendiri Individualistik konkret
3. Menjaga citra/nama baik dan menjaga kepercayaan, loyalitas, respek, dan rasa terima-kasih Dorongan untuk menjadi orang baik menurut pandangan diri maupun orang lain Perspektif individu dalam kaitannya dengan pihak lain
4. Menekankan kewajiban dan kontribusi sosial Menghormati sistem dengan pertimbangan “seandainya setiap orang demikian”; dorongan nurani untuk memenuhi tanggungjawab. (sering dirancukan dengan tahap 3) Memahami perbedaan sudut pandang sosial/ kemasyarakatan dengan kesepakatan atau motif interpersonal
5. Ketidakberpihakan dan nilai-nilai nonrelatif sebagai panglima Tanggung jawab dalam sistem untuk melindungi semua pihak “kemaslahatan umat” Mengutamakan perspektif sosial/ kemasyarakatan
6. Mendasarkan prinsip keadilan universal: menghormati menyetarakan hak asasi dan menghormati martabat manusia sebagai individu Keyakinan atas kesahihan prinsip moral universal dan menjaga komitmen atasnya Perspektif sudut pandang moral yang menjadi dasar pijakan aturan dalam masyarakat


Transisi Perkembangan dalam Tahap-tahap Pertimbangan Moral
Sejalan dengan pandangan Piaget tantang perkembangan kognitif, Köhlberg menyatakan bahwa perkembangan pertimbangan moral yang melalui beberapa tahapan tersebut terjadi secara gradual. Transisi antara satu tahapan ke tahapan lain tidak terjadi dengan mendadak. Bisa dibilang bahwa konsep tahapan yang diajukan oleh Köhlberg tersebut dilakukan dalam rangka penyederhanaan saja, supaya lebih mudah untuk memahapi pola perkembangan pertimbangan moral.
Seorang individu, pada suatu waktu, sangat mungkin menunjukkan ciri-ciri moralitas dari dua tahap perkembangan moral. Dengan demikian ada kemungkinan terjadinya percampuran atau overlapping dua tahap perkembangan moral. Namun demikian untuk memutuskan posisi seorang individu dalam jenis tahapan moralitas yang disampaikan oleh Köhlberg, dapat dilakukan dengan cara melihat representasi karakteristik yang paling dominan. Oleh karena itu diperlukan sampel pertimbangan moral yang cukup banyak untuk dapat menentukan tahap perkembangan pertimbangan moral yang sedang dilalui seseorang.
Perkembangan moral menurut Köhlberg terjadi sebagai akibat dari proses pergerakan dari kondisi disequilibrium menuju kondisi equilibrium. Hal demikian selaras dengan teori perkembangan kognisi dari Piaget. Ketika kondisi equilibrium tercapai, akan selalu diikuti kondisi disequilibrium yang baru. Kondisi disequilibrium baru tersebut terjadi ketika individu dipaparkan dengan permasalahan yang membutuhkan pertimbangan moral satu tingkat di atas tahap yang sedang diajalaninya. Kondisi demikian akan memunculkan konflik antara dua tahap pertimbangan moral. Untuk mencapai kondisi equilibrium yang baru, sekali lagi, individu yang bersangkutan harus melakukan akomodasi terhadap tahap yang lebih tinggi. Dinamika demikian terjadi secara berkelanjutan. Pada akhirnya akomodasi tersebut membuat individu bergerak naik ke tahap berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar