Minggu, 20 Maret 2011

PENDEKATAN DIFERENSIAL

B. PENDEKATAN DIFERENSIAL
Pendekatan ini memulai dengan pertanyaan empiris: “Dalam perkembangan, bagaimana sekelompok individu dapat dipilah ke dalam sub-kelompok, yang dibedakan berdasarkan pada ciri-sifat status dan perilaku?
Pada dasarnya, pendekatan diferensial merupakan sistem yang bersifat empiris, bukannya teoritis. Fokus utama pendekatan diferensial adalah mencari tahu bagaimana orang dapat dikelompokkan ke dalam sub-kelompok dalam perkembangannya. Pengelompokan tersebut dapat dilakukan berdasarkan atribut status dan atribut perilaku. Pengelompokan yang berdasarkan atribut status misalnya berdasarkan usia, jenis kelamin, dan ras. Pengelompokan demikian tentu saja sama sekali tidak tidak bersifat psikologis. Pembedaan yang bersifat psikologis adalah yang didasarkan pada atribut behavioral. Atribut perilaku dapat dilihat dalam dimensi behavioral atau psikologis bipolar. Sebagai contoh: ekstroversi-introversi, dominan-submisif, agresif-pasif, tingkat aktivitas tinggi-tingkat aktivitas rendah, independen-dependen, trust-mistrust, dsb. Pada kenyataannya atribut behavioral bersifat kontinum yang memiliki sifat atau karakteristik yang saling berlawanan pada masing-masing ujungnya. Psikologi diferensial membagi individu ke dalam dua kelompok berdasarkan masing-masing atribut behavioral tersebut. Dengan demikian seorang individu akan digolongkan sebagai ekstrovert atau introvert, dominan atau submisif, dsb.
Tujuan psikolog menggunakan pendekatan diferensial dalam studi tentang perkembangan psikologis adalah untuk mengetahui berbagai jenis sub-kelompok pada atribut status dan perilakunya. Para psikolog menentukan beberapa atribut tersebut untuk lebih jauh meneliti diferensiasi pola perkembangannya. Dengan demikian, antara lain, akan dapat diperoleh jawaban bagaimana perbedaan perkembangan antara laki-laki dan perempuan pada usia remaja. Selain itu mungkin akan diperoleh jawaban, misalnya, bahwa pada usia remaja anak laki-laki akan lebih dominan, dan anak perempuan lebih submisif.

Perbedaan Individual menurut Pendekatan Diferensial
Pendekatan diferensial banyak memperhatikan kelompok atau sub-kelompok individu. Para psikolog diferensial menekankan hukum yang bersifat nomotetik, dengan berusaha untuk menentukan berbagai variabel yang dapat memprediksi bagaimana kelompok terdiferensiasi ke dalam berbagai sub-kelompok melalui perkembangan.
Dibandingkan teori tahapan, pendekatan diferensial lebih tertarik untuk menemukan berbagai dimensi perbedaan individual dalam perkembangan. Selaras dengan konseptualisasinya tentang perbedaan perbedaan sub-kelompok, pendekatan diferensial mendefinisikan perbedaan individual sebagai perbedaan posisi yang ada pada rentangan berbagai dimensi yang bersifat bipolar. Dengan kalimat lain dapat dinyatakan bahwa menurut pendekatan diferensial, yang dimaksud dengan perbedaan individual atau individualitas adalah posisi seseorang dalam setiap atribut yang bersifat multidimensi.

Studi Perkembangan menurut Pendekatan Diferensial
Pendekatan diferensial sering kali digunakan bersamaan dengan pendekatan lain, terutama dengan pandangan perkembangan klasikal, seperti yang dilakukan oleh Erikson. Pendekatan diferensial digunakan untuk melengkapi teori yang berpandangan adanya diskontinyuitas maupun yang menekankan adanya kontinyuitas dalam perkembangan.
Kontinyuitas-Diskontinyuitas. Ketika melihat hasil lintas tingkat usia, psikolog diferensial akan menekankan pada apakah perbedaan sub-kelompok yang terdapat pada usia sebelumnya juga terdapat pada tingkat usia setelahnya. Apabila terdapat keterkaitan antar tingkat usia, maka dikatakan terdapat kontinuitas. Sebaliknya, apabila terdapat perbedaan dari pola sebelumnya, maka dikatakan terdapat kontinuitas.
Stabilitas-Instabilitas. Dikatakan terdapat stabilitas dalam perkembangan apabila seseorang tidak mengalami perubahan ranking relatif terhadap kelompok referensinya. Dengan demikian akan dikatakan terjadi instabilitas apabila terjadi perubahan.
Menurut Emerich (1968), dalam mengkaji perkembangan berdasar sudut pandang deferensial, maka isu kontinuitas-diskontinuitas dan stabilitas-instabilitas tidak dapat ditinggalkan. Dengan mengacu pada pendekatan diferensial, Emerich (1968) menyampaikan hal sebagai berikut:
1. Kontinuitas dan stabilitas dapat terjadi ketika berbagai faktor dan variabel didalamnya tetap sama pada sub-kelompok, dari waktu 1 ke waktu 2, serta peringkat individu-individu dalam sub-kelompok tersebut tidak mengalami perubahan yang berarti.
2. Kontinuitas dan instabilitas dapat terjadi ketika berbagai faktor serta variabel didalamnya tetap sama pada sub-kelompok, dari waktu 1 ke waktu 2, namun peringkat individu-individu dalam sub-kelompok tersebut mengalami perubahan.
3. Diskontinuitas dan instabilitas dapat terjadi ketika berbagai faktor serta variabel didalamnya mengalami perubahan pada sub-kelompok, dari waktu 1 ke waktu 2, demikian juga, peringkat individu-individu dalam sub-kelompok tersebut mengalami perubahan.

Keterkaitan antar Berbagai Konsep Perkembangan dalam Pendekatan Diferensial

Dari pembahasan di muka, dapat kita simpulkan bahwa pendekatan diferensial menekankan pembahasan terkait masalah kontinuitas-diskontinuitas dan stabilitas-instabilits dalam perkembangan. Selain itu, pendekatan diferensial juga memiliki saling keterkaitan dengan pendekatan lain dalam memahami perkembangan.
Pendekatan diferensial tidak membahas isu bawaan-asuhan dan yang sejenisnya. Sebagai suatu pendekatan studi, pendekatan diferensial tidak bersifat a priori. Tidak terdapat gagasan tentang suatu formulasi yang dapat menunjukkan sumber dari perkembangan diferensial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar