Senin, 20 April 2015

TUGAS MP Kuantitatif

TUGAS:

Bacalah materi yang berjudul "variabel" dan "masalah penelitian: contoh".
Kemudian buatlah judul penelitian tiga jenis: deskriptif, korelasional, dan komparasional.
Masing-masing judul diberi penjelasan apa variabelnya.
Tugas dikumpulkan di meja Saya di Jurusan, paling lambat hari Jum'at 24 April.

Variabel

VARIABEL

Sebuah variabel (variable) adalah setiap kejadian, situasi, perilaku atau karakter individual yang beragam. Contoh-contoh variabel yang mungkin seorang psikolog pelajari meliputi performa tugas kognitif, panjang kata, kepadatan ruang, intelejensi, jender, masa reaksi, tingkat lupa, agresi, kredibilitas pembicara, perubahan sikap, kemarahan, stres, usia, dan kepercayaan diri. Masing-masing variabel ini merepresentasikan suatu kelas umum dari berbagai contoh khusus. Contoh-contoh khusus itu disebut dengan level atau nilai variabel. Sebuah variabel harus memiliki dua atau lebih level atau nilai. Bagi sejumlah variabel, nilai-nilai itu memiliki tanda-tanda numerik atau kuantitatif. Anggap bahwa performa tugas adalah sebuah skor tentang tes kognitif dengan 50  pertanyaan yang nilainya bisa berkisar di antara nilai ketepatan terendah 0 sampai nilai ketepatan tertinggi 50; nilai-nilai ini memiliki tanda-tanda numerik. Nilai variabel lain bukan numerik, melainkan hanya kategori-kategori identifikasi yang berbeda. Contohnya adalah jender; nilai-nilai untuk jender adalah pria dan wanita. Nilai-nilai ini berbeda tapi sama dalam tingkat kuantitas.
            Variabel bisa diklasifikasikan ke dalam empat kategori. Variabel situasional menjelaskan karakteristik-karakteristik dari sebuah situasi atau lingkungan: panjang kata yang Anda baca dalam sebuah buku, kepadatan ruang dalam sebuah kelas, kredibilitas seseorang yang mencoba membujuk Anda, dan jumlah orang yang datang dalam keadaan darurat. Variabel respons adalah respons atau perilaku dari para individu, seperti masa reaksi, performa dalam sebuah tes kognitif, dan membantu seorang korban dalam keadaan darurat. Variabel partisipan atau subject (participant or subject variabels) adalah perbedaan-perbedaan individual; variabel ini adalah karakteristik para individu, termasuk jender, intelejensi, dan sifat-sifat kepribadian seperti mudah bergaul. Terakhir, variabel perantara (mediating variables) adalah proses-proses psikologis yang memperantarai dampak-dampak sebuah variabel situasional terhadap sebuah respons tertentu. Sebagai contoh, Darley dan LatanĂ© (1968) menemukan bahwa bantuan akan berkurang ketika ada lebih banyak orang yang datang dalam sebuah keadaan darurat. Variabel perantara yang disebut dengan difusi tanggung jawab digunakan untuk menjelaskan fenomena ini (lihat Gambar 4.1.). Ketika ada sejumlah orang yang datang maka tanggung jawab perseorangan untuk membantu berdifusi di kalangan orang yang datang itu, sehingga tak seorang pun merasa memiliki tanggung jawab besar. Namun demikian, ketika seseorang merupakan satu-satunya orang yang datang dalam sebuah keadaan darurat maka semua tanggung jawab berada pada seseorang tadi, sehingga menambah peluang bahwa orang itu akan membantu. Oleh karena itu, menurut Darley dan LatanĂ©, jumlah orang yang hadir memengaruhi tanggung jawab personal, yang sebaliknya memengaruhi perilaku membantu.

DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL

Dalam riset aktual, si peneliti harus menentukan metode untuk mempelajari variabel-variabel yang diminati. Perlu diketahui bahwa variabel merupakan sebuah konsep abstrak yang harus diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk konkrit berupa observasi atau manipulasi. Oleh karena itu, variabel-variabel seperti "agresi", "performa tugas kognitif", "jumlah balasan", "kepercayaan diri" atau bahkan "panjang kata" harus didefinisikan dalam bentuk metode tertentu yang digunakan untuk mengukur atau memanipulasinya. Para ilmuwan merujuk pada definisi operasional sebuah variable —sebuah definisi dari variabel dalam bentuk operasi atau teknik yang digunakan oleh si peneliti untuk mengukur atau memanipulasi.
            Variabel secara operasional harus didefinisikan sehingga bisa dipelajari secara empiris. Sebuah variabel seperti "kredibilitas pembicara" mungkin bisa dikonseptualisasikan sebagai memiliki dua level dan secara operasional didefinisikan sebagai seorang pembicara yang digambarkan kepada para pendengar sebagai seorang "penerima Nobel" atau seorang "guru pengganti di Distrik Sekolah Tinggi Pusat". Variabel-variabel performa tugas kognitif bisa didefinisikan sebagai jumlah kesalahan yang terdeteksi dalam sebuah tugas membaca selama 10 menit.
            Mungkin juga ada sejumlah abstraksi ketika mempelajari sebuah variabel. Variabel semisal "panjang kata" adalah konkrit dan mudah dioperasionalisasikan dengan menggunakan sejumlah abjad atau suku kata, tapi kata-kata tepat untuk studi harus diseleksi. Konsep "stres" sangatlah umum dan lebih abstrak. Ketika para peneliti mempelajari stres, mereka mungkin fokus pada sejumlah penyebab stress —kebisingan, keramaian, masalah kesehatan akut, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. Seorang peneliti yang tertarik dengan stres barangkali akan memilih untuk mempelajari satu penyebab stres dan kemudian mengembangkan definisi-definisi operasional dari penyebab stres tertentu itu. Dia kemudian akan melakukan riset terkait dengan penyebab stres tertentu itu dan pada konsep stres yang lebih umum. Hal terpenting adalah bahwa para peneliti harus selalu menerjemahkan variabel ke dalam operasi khusus untuk memanipulasi atau mengukur variabel itu.
            Tugas mendefinisikan secara operasional variabel memaksa para ilmuwan untuk mendiskusikan konsep-konsep abstrak dalam istilah-istilah konkrit. Proses itu bisa memunculkan kesadaran bahwa konsep itu terlalu kabur untuk dipelajari. Kesadaran ini tidak mesti berarti bahwa konsep itu tidak berguna, melainkan bahwa riset sistematis mustahil dilakukan kecuali konsep itu telah terdefinisikan secara operasional. Sekali sebuah definisi operasional sudah ditemukan, pemahaman lebih lanjut mengenai sebuah fenomena psikologis sering kali bergantung pada perkembangan teknologi yang semakin canggih. Misalnya, konsep "aktivitas otak" bukanlah sebuah konsep yang baru. Studi mengenai bagaimana aktivitas otak terkait dengan perilaku difasilitasi pertama kali oleh perkembangan teknik-teknik perekaman elektrofisiologis dan paling terbaru oleh teknologi-teknologi penggambaran otak.
            Definisi-definisi operasional juga menolong kita mengkomunikasikan gagasan-gagasan kita pada orang lain. Jika seseorang ingin memberitahu pada saya soal agresi, saya perlu tahu dengan tepat apa makna terma ini sebab ada banyak cara mendefinisikan secara operasional istilah itu. Misalnya, agresi bisa didefinisikan sebagai (1) jumlah dan durasi kejut yang diberikan pada orang lain, (2) berapa kali seorang anak meninju sebuah boneka badut elastis, (3) berapa kali seorang anak berkelahi dengan anak lain selama waktu istirahat, (4) statistik bunuh diri yang diperoleh dari catatan-catatan kepolisian, (5) skor dari sebuah ukur kepribadian tentang agresivitas, atau bahkan (6) berapa kali sebuah stik pemukul digunakan selama permainan bisbol. Komunikasi dengan orang lain akan menjadi lebih mudah jika kita setuju dengan maksud kita sebenarnya ketika kita menggunakan istilah aggression dalam konteks riset kita.

            Jarang sekali dijumpai metode tunggal dan pasti benar untuk mendefinisikan secara operasional sebuah variabel. Sejumlah metode mungkin tersedia yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Para peneliti harus memutuskan variabel mana yang harus digunakan dengan mempertimbangkan problem tertentu dalam studi, tujuan-tujuan riset, dan pertimbangan-pertimbangan lain seperti etika dan kerugian. Untuk mengilustrasikan bisa seberapa kompleks usaha pendefinisian operasional sebuah variabel, lihatlah pilihan-pilihan yang dihadapi oleh seorang peneliti yang tertarik mempelajari keramaian. Si peneliti itu berhasil mempelajari dampak-dampak keramaian terhadap mahasiswa melalui sebuah eksperimen laborat yang dikontrol secara hati-hati. Namun demikian, fokus dari minat si peneliti mungkin dampak jangka panjang dari keramaian; jika demikian, barangkali ide bagus meneliti dampak-dampak keramaian pada binatang-binatang percobaan seperti tikus. Si peneliti bisa meneliti dampak keramaian pada agresi, makan, perilaku seksual, dan perilaku maternal. Tapi bagaimana jika si peneliti ingin meneliti variabel-variabel kognitif atau sosial seperti performa intelektual atau interakasi keluarga? Di sini, si peneliti mungkin memutuskan untuk mempelajari orang-orang yang tinggal di perumahan yang ramai dan membandingkan mereka dengan orang-orang yang tinggal di lingkungan yang kurang ramai. Karena tidak ada metode satu pun yang sempurna, pemahaman penuh tentang setiap variabel melibatkan studi terhadap variabel itu dengan menggunakan sejumlah definisi operasional. Beberapa metode akan dibahas dalam buku ini.

Masalah Penelitian: Contoh

MASALAH PENELITIAN
Latar belakang masalah merupakan penyajian masalah penelitian yang disampaikan dalam bentuk narasi logis. Dengan penyajian masalah dalam bentuk latar belakang diharapkan dapat dipahami konteks mengapa penelitian tersebut dilakukan. Konteks tersebut dapat berupa konteks teoritis ataupun konteks praktis. Konteks teoritis disampaikan ketika terdapat kesenjangan (gap) atau ruang kosong (void) dalam wilayah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tersebut diwakili dengan suatu bangun teori tententu yang hendak diisi atau dilengkapi atau disempurnakan. Konteks praktis disampaikan ketika terdapat alasan praktis, dimana terdapat pertanyaan mengenai sesuatu yang berkenaan dengan kenyataan atau dunia riil.
Rumusan Masalah atau Formulasi Masalah berupa kalimat yang menanyakan mengenai suatu perihal yang hendak dan harus dijawab oleh penelitian yang bersangkutan. Rumusan masalah merupakan intisari dari latar belakang masalah, yang dinyatakan dalam satu kalimat.
Contoh Rumusan Masalah:
Karena masalah penelitian dapat dibagi menjadi 3: deskriptif, komparatif, dan korelasional, maka contoh berikut disajikan berdasarkan tiga jenis masalah penelitian tersebut.
Deskriptif:
·         Seberapa tinggi tingkat keterserapan lulusan program studi yang ada di IAIN Surakartadi pasar-kerja?
·         Seberapa tinggi keberterimaan pimpinan IAIN Surakarta oleh civitas akademika?
·         Bagaimana persepsi mahasiswa terhadap kualitas layanan akademik IAIN Surakarta?
Komparatif:
·         Adakah perbedaan tingkat sosial-ekonomi mahasiswa antar program studi di IAIN Surakarta?
·         Apakah ada perbedaan tingkat motivasi antara mahasiswa program studi PAI dan dan program studi Tafsif Hadits?
Korelasional:
·         Apakah terdapat hubungan antara motivasi kuliah dengan kecepatan kelulusan mahasiswa IAIN Surakarta?
·         Apakah terdapat hubungan antara prestasi belajar di perguruan tinggi dengan prestasi belajar pendidikan sebelumnya (SMA/MA/SMK)?
Berikut adalah contoh dari latar belakang maslah yang dikutip dari disertasi Anthony Richard Bardo, Miami University, Oxford, Ohio, 2010.
Kutipan disajikan apa adanya, kemudian diikuti dengan penjelasan pikiran-pokok masing-masing paragraf.
Introduction
As happiness and life satisfaction research becomes increasingly popular across social science disciplines, specifically those concerned with aging, there is a greater need for research to examine how these most common measures of subjective wellbeing (SWB) are associated with aging. Happiness typically refers to a positive inner psychological state of mind that is subject to sudden changes in mood, and life satisfaction is generally referred to as the summation of evaluation regarding a person’s life as a whole. By definition these two measures of SWB are conceptually different, but the vast majority of previous literature uses happiness and life satisfaction interchangeably.
SWB research, in general, is useful and important for a multitude of reasons. Andrews and Withey (1976) provide six products of value for examining measures of SWB, which still hold true today. The current study aims to satisfy these six products of value through examining the relationship between happiness and life satisfaction across the life course. Specifically, I will address the following question: Does the comparability of happiness and life satisfaction decrease over the life course?
The first product of value provided by Andrews and Withey (1976) states that there is value in obtaining baseline measures that we can compare to subsequent measures. Baseline measures of SWB are important, because they can act as a reference for researchers and policy makers to determine if a specific group’s wellbeing is getting better or worse. The present study aims to generate a more established baseline measure for the comparability of happiness and life satisfaction. Previous research states that happiness and life satisfaction are typically correlated at about 0.57 (Lu, 1999), but this baseline correlation was established without concern for age, period, and/or cohort effects. Apparently, there is no previous literature that examines the correlation between happiness and life satisfaction through a life course perspective.
The second product states that there is value in knowing how SWB is distributed throughout society. Examining the distribution of SWB is important because it demonstrates how different groups feel. The current study provides a comprehensive literature review, which includes previous literature from psychology, sociology, and economics. Happiness and life satisfaction research is becoming increasingly popular across social science disciplines, but there is little communication between the three major disciplines of interest. Moreover, I integrate these literatures to provide information on the distribution of happiness and life satisfaction.
The third product states that there is value in understanding the structure and independence of specific measures of SWB. This product suggests that it is important for researchers and policy makers to know how life events may affect happiness and life satisfaction differently. The main objective of the present study is to examine the structure and independence of happiness and life satisfaction, which are the two most common measures of SWB. I utilize GSS data from 1972 to 1994 and ordinary least squares regression techniques to examine the comparability of happiness and life satisfaction across the life course. This analysis interacts age and cohort with happiness (regressed on life satisfaction), which allows for age effect and cohort effect distinctions.
The fourth product is that there is value in learning how people make judgments and evaluate their lives. It is important to know how the assessment of SWB measures differs from one perspective to another in order to utilize the best suited SWB measure for the particular task at hand. Here, I examine happiness and life satisfaction through an absolute and relative perspective, which is intended to better understand how people evaluate their lives. Previous happiness and life satisfaction literature outside of
psychology is highly atheoretical, and this study adds new theoretically driven insights to the assessment of happiness and life satisfaction.
The fifth product states that there is value in knowing how people come to a conclusion about their feelings on life overall, which is important for understanding which aspects of life are more important to some groups than others. The current study’s results demonstrate that while happiness may be a strong predictor of life satisfaction for most cohorts, there are some cohorts for whom happiness may not predict life satisfaction. Specifically this includes cohorts of impressionable age during the Great Depression. This new finding suggests that the interchangeability of happiness and life satisfaction should be approached more cautiously. Furthermore, it is a call for social science research to have more theoretically driven research when examining happiness and/or life satisfaction.
The sixth, and final, product of value is more general than the previous products, and encompasses the overall value of SWB research. It states that, “there is value in understanding the whole process of human evaluating. Most would agree that anything that can be done to improve the human lot that is reflected as felt improvement is a condition to be coveted. The appreciation of life’s conditions would often seem to be as important as what those conditions actually are” (Andrews & Withey, 1976 Pg. 10). Better understanding SWB, and its associated measures, benefits society as whole by producing knowledge that can be utilized to increase wellbeing.

Dengan semakin populernya penelitian mengenai kebahagiaan dan kepuasan hidup di berbagai disiplin ilmu pengetahuan sosial, terutama yang berkenaan dengan usia lanjut, maka semakin besar kebutuhan untuk mengkaji keterkaitan antara kesejahteraan-subjektif dengan masa tua. Kebahagiaan mengacu pada...., sedangkan kepuasan hidup secara umum adalah.... Secara konseptual kedua variabel tersebut adalah berbeda, namun berbagai literatur yang ada sebagain besar saling mempertukarkannya.
--> Alasan UMUM pentingnya penelitian tentang kesejahteraan-subjektif, dan mengkaji konsep kebahagiaan dan kepuasan hidup yang sering digunakan dengan aturan yang tidak jelas.
Dari berbagai sudut pandang, penelitian mengenai kesejahteraan-subjektif, bermanfaat dan penting. Andrews dan Withey (1976) menyampaikan enam nilai ...., yang sampai sekarang masih terbukti kebenarannya. --> Arti penting penelitian mengenai kesejahteraan-subjektif (kebahagiaan, kepuasan hidup). Secara spesifik penelitian ini menyampaikan pertanyaan: apakah hubungan antara kebahagiaan dengan kepuasan hidup semakin menurun, seiring bertambahnya usia?
Nilai pertama yang disampaikan Andrews and Withey (1976) ..... Dalam penelitian terdahulu ditemukan bahwa..... (Lu, 1999), namun korelasi tersebut tidak mempertimbangkan pengaruh usia, periode, dan kohort. Selain itu tidak pernah ada penelitian yang mengkaji hubungan antara kebahagian dengan kepuasan hidup dengan perspektif rentang kehidupan (antar usia). --> Pentingnya melibatkan usia, periode, ... dalam penelitian tentang kebahagiaan dan kepuasan hidup.
Nilai kedua.... Mengkaji distribusi kesejahteraan subjektif sangat penting, karena.... Selama ini banyak penelitian tentang kebahagiaan dan kesejahteraan-subjektif dari berbagai disiplin, namun tidak ada komunikasi/integrasi antar sudut pandang tersebut. --> Pentingnya  komunikasi dan integrasi sudut pandang psikologis, sosiologi dan ekonomis..
Nilai ketiga .... Nilai menunjukkan bahwa pengalaman memiliki dampak yang berbeda terhadap kebahagiaan dan kepuasan hidup. --> Pentingnya mengkaji struktur konsep kebahagiaan dan kepuasan hidup dan melihat perbedaan/persamaan antara keduanya.
Nilai keempat adalah.... Literatur (penelitian) tentang kebahagiaan dan kepuasan hidup di luar Psikologi tanpa memiliki dasar teoritis yang jelas, dan penelitian ini memberikan alternatif pengukuran kebahagiaan dan kepuasan hidup yang didasarkan pada teori yang jelas. --> Pentingnya mengukur variabel Kebahagian dan pekuasan hidup dengan dasar teori yang jelas.
Nilai kelima..., yang sangat penting untuk memahami aspek apa saja yang penting bagi sekelompok orang dan tidak bagi kelompok lain... --> Pentingnya  mengungkap hal tersebut secara spesifik....

Nilai keenam.... --> Arti penting memahami kesejahteraan-subjektif: kebahagiaan dan kepuasan hidup sebagai bentuk ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk berbagai upaya peningkatan kesejahteraan individu, masyarakat, atau umat manusia.

Kamis, 30 Oktober 2014

PARADIGMA, METODOLOGI, DAN METODE

TUGAS METODE PENELITIAN

PENGUMUMAN MK METODE PENELITIAN

Diberitahukan kepada mahasiswa BKI yang mengambil MK Metode Penelitian, untuk
Membaca FILE posting berjudul "Paradigma, Metodologi, dan Metode".

Sebagai bahan untuk mengerjakan tugas sebagai berikut:

Kumpulkan FOTO-COPY Bab III dari suatu skripsi, dilampiri dengan hasil analisis kalian dari foto-copy tersebut yang berupa apa Paradigma, Metodologi, dan Metode yang digunakan dalam penelitian (skripsi) tersebut.

Tugas tersebut dikumpulkan tanggal 14 November 2014.